Kacang panjang merupakan leguminosa tahunan berasal dari Afrika dan sebagian besar tanaman tersebut tumbuh. di sana selama musim hujan lebih pendek (Agustus-Oktober). Leguminosa ini merupakan tanaman yang ideal untuk daerah semi kering Di Indonesia, khususnya kacang tunggak ditanam di kering daerah dengan curah hujan tahunan rendah seperti Propinsi Timor Timur di Indonesia timur, seperti tanaman pangan.

Kacang panjang (Vigna sinensis) adalah salah satu jenis tanaman sayur-sayuran yang memiliki banyak kegunaan. Salah satu diantaranya adalah sebagai bahan makanan yang dijadikan sayuran sehari-harinya. Kacang panjang diketahui megandung betakaroten, klorofil, vitamin B1 dan B2, serat serta pektin.Karena kandungan dari kacang panjang sangatlah beragam, kacang panjang dapat digunakan sebagai obat berbagai penyakit diantaranya mengendalikan kadar gula darah, mengatasi hipertensi, memperkecil resiko stroke dan serangan jantung, meningkatkan fungsi organ pencernaan, menurunkan risiko kanker dan membantu mengatasi sembelit.

Selain kandungan diatas kacang panjang juga memiliki kandungan gizi yang tinggi diantaranya vitamin A, B1, B2 dan C, protein, tiamin, riboflavin, fosfor, zat besi, potassium folat, magnesium, mangan, kalori, sodium, karbohidrat, kalsium. Tidak hanya buah, yang bisa memberikan manfaat. Daun kacang panjang, ternyata juga memberikan banyak khasiat diantaranya meluruhkan air seni. Menurut penelitian lainnya, kacang panjang juga dapat menghancurkan batu ginjal. Selain itu, juga bisa mencegah kelainan `antibodi, meningkatkan fungsi limpa, meningkatkan penyatuan DNA dan RNA, meningkatkan fungsi sel darah merah, beri-beri, demam berdarah, kurang darah, sakit pinggang, rematik, pembengkakan, meningkatkan nafsu makan, dan sukar buang air besar.

Berbagai nilai ekonomi dari kacang panjang menjadikan latar belakang utama kami untuk membuat disease notebook mengenai penyakit-penyakit yang menyerang kacang panjang diantaranya penyakit sapu, antraknosa, embun putih dan dan sekaligus memberikan solusi penanggulangan penyakit tersebut.

Karat merupakan salah satu penyakit yang menyerang kacang panjang. Penyakit ini menyebabkan wabah berkala di daerah Colorado Timur selama 50 tahun terakhir. Di beberapa daerah, penyakit karat kacang panjang telah menyebabkan kerugian 50 persen. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Uromyces appendiculatus. Cendawan ini merupakan Filum Basidiomycota, Kelas Urediniomycetes, Ordo Uredinales, dan Famili Pucciniaceae. Spora cendawan ini menginfeksi bagian daun tanaman dalam bentuk urediniospora dan teliospora. Cendawan akan membentuk teliospora pada musim dingin, sebagai struktur pertahanan.

Gejala awalnya tampak seperti bintik-bintik kecil, sedikit menonjol, kuning atau putih di atas dan atau di bawah permukaan daun. Bintik-bintik kemudian memperbesar dan membentuk pustul-cokelat kemerahan atau berwarna karat yang berdiameter sekitar 0.125 inci dan mengandung ribuan spora. Pada  musim panas , Spora  dapat segera dibebaskan dari pustul dan memberikan penampilan seperti karat, bila disentuh akan menempel ditangan. Pada buah terdapat kerusakan berupa nekrosis berwarna hitam, buah yang menghitam akan sangat berpengaruh terhadap kualitas produksi kacang panjang. Gejala seperti ini juga terdapat  pada daun.

Pengendalian untuk penyakit karat kacang panjang ini bisa dilakukan dengan praktek budidaya seperti rotasi tanaman (2-3 tahun) untuk menurunkan potensi penyebaran. Sisa tanaman yang terserang harus dibakar. Pasokan air irigasi harus pas, jangan terlalu banyak agar kelembabannya terkontrol. Sistem drainase juga harus baik. Beberapa fungisida dapat mencegah atau mengurangi infeksi karat, jika penerapannya pada awal musim sebelum epidemi menjadi berat. Terapkan fungisida untuk mencegah kerugian, dapat digunakan fungisida seperti azoxystrobin (Quadris), boscalid (Endura) dan pyraclostrobin (Headline). Untuk pemakaian fungisida, sedikitnya 5 galon air per hektar ditambah dengan fungisida pilihan unuk disemprotkan ke bagian-bagian tanaman yang terserang patogen ini.

Penyakit antraknosa pada kacang panjang ini menyerang batang, daun, bunga buah dan biji. Penyakit ini disebabkan oleh Colletrotichum lindemuthianum atau disebut juga Gloesporium lindemuthianum atau nama lainnya Glomerella lindemuthianum. Konidium cendawan ini berwarna putih bening, berbentuk jorong dengan ujung bulat, lurus atau bengkok.

Infeksi mula-mula terjadi pada batang, infeksi ini menyebabkan bercak-bercak berwarna coklat kemerahan atau jingga pada batang yg terinfeksi cendawan. Akibat serangan adalah perkecambahan biji terganggu, kadang-kadang bagian yang tidak terserang tidak menunjukan gejala. Pada tahapan selanjutnya, bercak akan meluas ke seluruh batang dengan bentuk memanjang. Bila kondisi lingkungan lembab, maka di tengah-tengah bercak tumbuh bulu-bulu berwarna merah bata. Bulu-bulu tersebut merupakan konidium cendawan. Pada infeksi selanjutnya akan mencapai tangkai daun dan daun. Tulang-tulang daun pada sisi bawah berwarna coklat kemerahan sampai hitam, kemudian daun akan layu. Pada serangan yg lebih berat, infeksi cendawan ini sampai pada bunga, buah (polong) dan biji. Infeksi pada bunga menyebabkan bunga rontok. Jika penyakit mengenai polong maka polong menjadi berbercak-bercak kecil warna coklat sampai hitam dg bagian tepi coklat muda atau merah muda. Bercak-bercak tersebut dapat berkemnbang hingga berukuran besar. Serangan pada polong akan berlanjut pada biji. Biji yg terinfeksi cendawan ini akan berbercak-bercak coklat dan bercak bercak ini akan menyelimuti seluruh biji. Biji yg telah terinfeksi jika ditanam maka setelah berkecambah akan rebah.

Penyakit ini dapat mengganggu produksi petani kacang panjang, dan harus segera dikendalikan apalagi bila sudah mencapai ambang ekonomi. Cara pengendalian penyakit antraknosa yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Memilih bibit atau biji tanaman yang sehat dan bebas penyakit.
  • Pergiliran masa tanam atau disebut juga rotasi tanaman dan menjaga kondisi lingkungan, maksudnya memanipulasi kondisi lingkungan agar cocok dengan yang dibutuhkan tanaman untuk berkembang optimal,
  • Perlakuan benih sebelum ditanam dengan fungisida Dithane M-45 dan Cupravit OB 21 0,1-0,2%, agar bibit terbebas dari cendawan Colletrotichum lindemuthianum,
  • Tanaman yang sakit sebaiknya dikumpulkan dan dibakar, agar tidak menulari tanaman lainyang sehat dan cendawan Colletrotichum lindemuthianum dapat musnah di areal pertanaman tersebut,
  • Sanitasi lingkungan pertanaman dengan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

Sapu merupakan penyakit yang cukup serius pada kacang panjang. Penyakit ini menyerang pada seluruh bagian tanaman (sistemik). Penyakit ini disebabkan oleh fitoplasma. Fitoplasma ditularkan melalui vektor (serangga).Secara genetis fitoplasma lebih dekat kekerabatannya denga Acholeplasma daripada Mycoplasma.

Penyakit kerdil pada kacang panjang mempunyai beberapa sebutan, yaitu penyakit sapu, sapu setan dan pemyakit keriting Penyakit sapu yang disebabkan oleh fitoplasma merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman kacang-kacangan khususnya kacang panjang . Penyakit sapu pada tanaman kacang panjang gejala awalnya adalah terbentuknya proliferasi atau tunas, tidak menghasilkan polong atau polong hampa, pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk “sapu” dan jika serangan terjadi sangat parah tidak akan terbentuk biji.. Gejalanya tanaman tampak kerdil, daun-daun kecil melengkung ke bawah, bergelombang dan berwarna hijau tua (lebih gelap). Ruas batang pendek-pendek dan banyak tunas-tunas yg tumbuh di ketiak daun sehingga tanaman tampak rimbun dan terlihat seperti sapu. Penyakit ini menyebabkan tanaman kacang panjang tidak bisa berbuah meskipun mampu berbunga.

Fitoplasma  ini bisa ditemukan di pembuluh tapis pada jaringan floem. Perkembangbiakan mikroplasma berlangsung di dalam jaringan floem tersebut sehingga menyebabkan terganggunya fungsi floem. Di samping itu keberadaan Fitoplasma menyebabkan terganggunya keseimbangan hormon di dalam tumbuhan. Akibatnya pertumbuhan abnormal. Penyakit ini ditularkan oleh wereng Orosius argentatus.

Cara untuk pengendalian penyakit sapu ini terbagi menjadi dua yaitu pencegahan penyakit dan pengendalian setelah penyakit menyebar. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan pemilihan benih yang sehat dengan serangkaian uji benih. Selain itu jarak tanam dan pola tanam juga perlu diperhatikan untuk mengurangi populasi vektor dari fitoplasma tersebut. Jika ditemukan tanaman yang terserang penyakit sapu ini hal yang dapat dilakukan adalah dengan mencabut tanaman tersebut dan membakarnya agar fitoplasma tidak menyebar. Cara lain pengendalian penyakit ini adalah dengan mengendalikan vektor dari fitoplasma seperti kutu daun dengan insektisida kimia maupun nabati. Secara umum, perawatan tanaman  selama fase awal penyakit ini jauh lebih
efektif daripada perawatan tanaman dalam stadium lanjut  penyakit ini. Tanaman terinfeksi atau tidak aktif propagative  dapat sepenuhnya dibebaskan dari fitoplasma dengan pemanasan. Tanaman yang terinfeksi disimpan dalam ruang pertumbuhan pada suhu 37 ° C selama beberapa hari, minggu, atau bulan; tidak aktif  organ yang direndam dalam air panas pada 30-50 ° C selama 10 menit pada temperatur yang lebih tinggi dan sebagai selama 72 jam pada suhu yang lebih rendah.